Langsung ke konten utama

Mau Pacaran Atau Menikah Dengan Pariban?Pahami ini Dulu

Detikbatak.com_Apakah yang dimaksud dengan Tutur Pariban Dalam Suku Batak?Pariban adalah pada dasarnya sebenarnya sepupu. Yang artinya anak laki-laki dari Namboru dan anak perempuan dari Tulang dapat dinikahkan (dipasaut dalam bahasa batak).

Tulang adalah abang/adik dari ibu kita, dan Namboru itu adalah kakak/adik dari ayah kita. Jadi artinya kita menikah dengan sepupu kita (dalam adat batak di perbolehkan).

Jadi, pariban merupakan sepupu yang dapat dinikahi. Menikah (mangoli) dengan pariban selaku putri dari pamannya (boru ni Tulang) merupakan perkimpoian ideal menurut adat Batak. beristrikan putri paman (marboru ni tulang/mangalap boru ni tulang).

Jika seorang kemenakan (bere) akan menikah tidak dengan paribannya, ia harus menghadap dan menyampaikan permohonan "maaf" kepada Tulang secara santun dan arif untuk mendapatkan pengertian dan selanjutnya meminta doa restu dari Tulang-nya (manopot Tulang). Bukan hanya dari saudara, pariban juga sering di temui/ dijumpai dalam hal partuturan yaitu melalui marga.

Detikbatak.com_Apakah yang dimaksud dengan Tutur Pariban Dalam Suku Batak?Pariban adalah pada dasarnya sebenarnya sepupu. Yang artinya anak laki-laki dari Namboru dan anak perempuan dari Tulang dapat dinikahkan (dipasaut dalam bahasa batak).    Tulang adalah abang/adik dari ibu kita, dan Namboru itu adalah kakak/adik dari ayah kita. Jadi artinya kita menikah dengan sepupu kita (dalam adat batak di perbolehkan).    Jadi, pariban merupakan sepupu yang dapat dinikahi. Menikah (mangoli) dengan pariban selaku putri dari pamannya (boru ni Tulang) merupakan perkimpoian ideal menurut adat Batak. beristrikan putri paman (marboru ni tulang/mangalap boru ni tulang).    Jika seorang kemenakan (bere) akan menikah tidak dengan paribannya, ia harus menghadap dan menyampaikan permohonan "maaf" kepada Tulang secara santun dan arif untuk mendapatkan pengertian dan selanjutnya meminta doa restu dari Tulang-nya (manopot Tulang). Bukan hanya dari saudara, pariban juga sering di temui/ dijumpai dalam hal partuturan yaitu melalui marga.     Pariban (Boru Batak)     Nah, ngomong-ngomong soal pariban, memori tentang pariban seakan-akan sangat sulit terlupakan. Karena sejak kita kecil kemungkinan kita(boru ni tulang) sudah di goda oleh keluarga dari pariban kita(anak ni namboru).    Tidak jarang ditemukan hubungan marpariban kelihatan kompak. Mereka bisa saja saling menggoda tanpa merasa malu satu sama lain. Namun, tidak menutuo kemungkinan masih ada hubungan ber-pariban yang merasa janggal bahkan untuk berbicara saja. Hal itu mungkin disebabkan telah lama tidak bertemu atau mungkin sama sekali tidak pernah bertemu.        Istilah pariban tentu sangat familiar di telinga kita orang Batak. Begitu mendengar kata pariban, pasti kalian para pria Batak akan teringat kepada putri saudara laki-laki ibu (boru ni tulang).    Atau bagi kalian Boru Batak akan membayangkan putra saudara perempuan bapak (anak ni namboru).        Memori soal pariban seakan tidak bisa terlupakan karena sejak kecil kadangkala kita sudah digoda oleh orangtua atau famili jika bertemu dengan pariban. “Pariban nih ye” atau “Cie…paribanmu lho itu.”    Menurut adat Batak, marpariban itu memang hubungan famili yang khas dan istimewa karena bisa saling menikahi.    Dahulu jika seseorang pria sudah pantas menikah maka begitu mudah orang mengatakan kepadanya: “Tunggu apalagi? Nikahilah pariban-mu itu!” atau “Pariban-mu itu saja nikahi!” Hmmm…seakan menikahi pariban itu begitu mudah dan ada hak khusus bagi yang marpariban.        Bahkan sering kita dengar orangtua berseloroh 'larikan saja pariban-mu itu’ (luahon ma paribanmi) atau jika pariban-mu itu tidak mau menikah, gendong saja bawa lari “manigor ompahon tu jabum”. Begitulah hubungan marparibandigambarkan seperti sesuatu yang mudah dan ada hak khusus melekat.    Bukan hanya itu saja,Kini Budaya Tutur Pariban bahkan diangkat menjadi sebuah sinopsis Filim seperti yang Berjudul:Pariban Idola Dari Tanah Jawa,dan Filim Batak lainya juga banyak mengangkat Latar cerita Bagaimana Hubungan Atau kisah marpariban dalam budaya suku Batak.    Tetapi tahukah kalian, sesungguhnya hubungan marpariban itu memiliki konsekuensi yang sangat berat dalam adat Batak. Sepasang kekasih yang mempunyai hubungan pariban itu akan memiliki beban moral dan psikologis yang lebih tinggi, bahkan sampai mereka menikah.      Kenapa bisa begitu?    jika yang marpariban kandung berhubungan “margaul” atau pacaran, orangtua kedua pihak mungkin akan wanti-wanti melarangnya. Sebab jika pergaulan mereka semakin dekat tentulah orangtuanya sangat berharap mereka kelak menikah.    Pengharapan yang tinggi kedua pihak orangtua akan membuat sakit hati, pengharapan yang sia-sia (tarhirim) akan berbekas di hati orangtua jika pernikahan batal. Terlepas siapa dan alasan apapun yang membuat yangmarpariban itu berpisah.    Jika tulang-mu atau namboru-mu sudah berharap kau jadi menantunya karena sudah kau awali berpacaran dengan anaknya, tetapi tidak jadi kau nikahi, maka tentu pihak tulang di satu sisi dan namboru di sisi lain akan sakit hati        Ada ganjalan dan rasa kecewa pada bere-nya/maen-n-a dapat menimbulkan perpecahan ikatan hubungan darah, terlebih hubungan adat abang-adik orangtua kedua pihak.    Bayangkan, pria mengecewakan boru tulang dan keluarganya, bagaimanalah perasaan tulang-mu pada saat acara adat pernikahanmu dengan gadis lain?    Sebab pada acara adat peran tulangmu sebagai pihak yang bersama-sama dengan mertua adalah pemilik anak pada istrimu “sijalo tintin marangkup.”    Demikian juga misalnya gadis mengecewakan namborunya. Ketika sang gadis menikah dan pada acara adat, dimana peran namboru sebagai sihunti ampang bagian dari dasar adat “suhi ni ampang na opat.”    Nah, uraian di atas masih dalam tahap pacaran. Bagaimana pula misalnya, jika yang marpariban telah menikah tetapi kemudian bercerai?    Wahhh... ini lebih gawat lagi kawan! Jika ini terjadi, dampaknya sangat besar, panjang serta sulit diperbaiki. Sebuah ikatan adat yang diikat oleh hubungan darah akan membuat luka yang sangat dalam.    Hubungan abang-adik (na mariboto) bisa putus akibatnya (gotap rahut-rahut ni holong nang adat). Hal ini begitu sangat amat menyakitkan, dan eksesnya bisa melebar dan panjang hingga waktu yang tak dapat dipastikan.    Itulah sebabnya, jika dua orang yang marpariban kandung diketahui menjalin hubungan, kadangkala kedua orangtua segera melarangnya karena bisa menimbulkan sakit hati jika kelak tidak jadi menikah.        Atau, jika sepasang marpariban hendak menikah dengan paribannya, maka sudah pasti kedua pihak akan mempertimbangkan serius kesungguhan anaknya. Serta menyampaikan konsekuensi yang akan diterima kedua pihak keluarga jika kelak keluarga mereka tidak harmonis.    Jadi, ingat kalian ya, marpariban itu indah tetapi penuh konsekuensi. Jadi jangan main-main dengan paribanmu...    Di lansir dari berbagai sumber
Pariban (Boru Batak)


Nah, ngomong-ngomong soal pariban, memori tentang pariban seakan-akan sangat sulit terlupakan. Karena sejak kita kecil kemungkinan kita(boru ni tulang) sudah di goda oleh keluarga dari pariban kita(anak ni namboru).

Tidak jarang ditemukan hubungan marpariban kelihatan kompak. Mereka bisa saja saling menggoda tanpa merasa malu satu sama lain. Namun, tidak menutuo kemungkinan masih ada hubungan ber-pariban yang merasa janggal bahkan untuk berbicara saja. Hal itu mungkin disebabkan telah lama tidak bertemu atau mungkin sama sekali tidak pernah bertemu.



Istilah pariban tentu sangat familiar di telinga kita orang Batak. Begitu mendengar kata pariban, pasti kalian para pria Batak akan teringat kepada putri saudara laki-laki ibu (boru ni tulang).

Atau bagi kalian Boru Batak akan membayangkan putra saudara perempuan bapak (anak ni namboru).



Memori soal pariban seakan tidak bisa terlupakan karena sejak kecil kadangkala kita sudah digoda oleh orangtua atau famili jika bertemu dengan pariban. “Pariban nih ye” atau “Cie…paribanmu lho itu.”

Menurut adat Batak, marpariban itu memang hubungan famili yang khas dan istimewa karena bisa saling menikahi.

Dahulu jika seseorang pria sudah pantas menikah maka begitu mudah orang mengatakan kepadanya: “Tunggu apalagi? Nikahilah pariban-mu itu!” atau “Pariban-mu itu saja nikahi!” Hmmm…seakan menikahi pariban itu begitu mudah dan ada hak khusus bagi yang marpariban.



Bahkan sering kita dengar orangtua berseloroh 'larikan saja pariban-mu itu’ (luahon ma paribanmi) atau jika pariban-mu itu tidak mau menikah, gendong saja bawa lari “manigor ompahon tu jabum”. Begitulah hubungan marparibandigambarkan seperti sesuatu yang mudah dan ada hak khusus melekat.

Bukan hanya itu saja,Kini Budaya Tutur Pariban bahkan diangkat menjadi sebuah sinopsis Filim seperti yang Berjudul:Pariban Idola Dari Tanah Jawa,dan Filim Batak lainya juga banyak mengangkat Latar cerita Bagaimana Hubungan Atau kisah marpariban dalam budaya suku Batak.dan Cerita Na marpariban banyak juga di kisahkan dalam aliran Lagu Batak.

Tetapi tahukah kalian, sesungguhnya hubungan marpariban itu memiliki konsekuensi yang sangat berat dalam adat Batak. Sepasang kekasih yang mempunyai hubungan pariban itu akan memiliki beban moral dan psikologis yang lebih tinggi, bahkan sampai mereka menikah.


Kenapa bisa begitu?

jika yang marpariban kandung berhubungan “margaul” atau pacaran, orangtua kedua pihak mungkin akan wanti-wanti melarangnya. Sebab jika pergaulan mereka semakin dekat tentulah orangtuanya sangat berharap mereka kelak menikah.

Pengharapan yang tinggi kedua pihak orangtua akan membuat sakit hati, pengharapan yang sia-sia (tarhirim) akan berbekas di hati orangtua jika pernikahan batal. Terlepas siapa dan alasan apapun yang membuat yangmarpariban itu berpisah.

Jika tulang-mu atau namboru-mu sudah berharap kau jadi menantunya karena sudah kau awali berpacaran dengan anaknya, tetapi tidak jadi kau nikahi, maka tentu pihak tulang di satu sisi dan namboru di sisi lain akan sakit hati



Ada ganjalan dan rasa kecewa pada bere-nya/maen-n-a dapat menimbulkan perpecahan ikatan hubungan darah, terlebih hubungan adat abang-adik orangtua kedua pihak.

Bayangkan, pria mengecewakan boru tulang dan keluarganya, bagaimanalah perasaan tulang-mu pada saat acara adat pernikahanmu dengan gadis lain?

Sebab pada acara adat peran tulangmu sebagai pihak yang bersama-sama dengan mertua adalah pemilik anak pada istrimu “sijalo tintin marangkup.”

Demikian juga misalnya gadis mengecewakan namborunya. Ketika sang gadis menikah dan pada acara adat, dimana peran namboru sebagai sihunti ampang bagian dari dasar adat “suhi ni ampang na opat.”

Nah, uraian di atas masih dalam tahap pacaran. Bagaimana pula misalnya, jika yang marpariban telah menikah tetapi kemudian bercerai?

Wahhh... ini lebih gawat lagi kawan! Jika ini terjadi, dampaknya sangat besar, panjang serta sulit diperbaiki. Sebuah ikatan adat yang diikat oleh hubungan darah akan membuat luka yang sangat dalam.

Hubungan abang-adik (na mariboto) bisa putus akibatnya (gotap rahut-rahut ni holong nang adat). Hal ini begitu sangat amat menyakitkan, dan eksesnya bisa melebar dan panjang hingga waktu yang tak dapat dipastikan.

Itulah sebabnya, jika dua orang yang marpariban kandung diketahui menjalin hubungan, kadangkala kedua orangtua segera melarangnya karena bisa menimbulkan sakit hati jika kelak tidak jadi menikah.



Atau, jika sepasang marpariban hendak menikah dengan paribannya, maka sudah pasti kedua pihak akan mempertimbangkan serius kesungguhan anaknya. Serta menyampaikan konsekuensi yang akan diterima kedua pihak keluarga jika kelak keluarga mereka tidak harmonis.

Jadi, ingat kalian ya, marpariban itu indah tetapi penuh konsekuensi. Jadi jangan main-main dengan paribanmu...

Di lansir dari berbagai sumber


Komentar

Video Terbaru Kami

Online

Theme Editor by Seo v6